Pastikan Pangan Aman, Gubernur Sulsel Gandeng BI Bahas Pengendalian Inflasi


11 Oktober 2018 | Bagikan

videomax package

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar rapat pengendalian harga pangan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menjelang Ramadan.

Tim ini terdiri dari atas berbagai instansi pemerintahan daerah, Bank Indonesia (KBI), Biro Perekonomian, Satuan Kerja Perangkat Daerah SKPD/SKPD terkait, Bulog, BUMD, serta pihak terkait lainnya.

Kepala Perwakilan BI Sulsel, Bambang Kusmiarso mengatakan, kondisi stabilisasi harga di Sulsel cukup baik. Secara umum, yang paling penting untuk terus dikontrol adalah bagaimana menjaga ketersediaan dan harga pangan, serta kelancaran distribusi.

"Secara umum dapat disampaikan, bahwa kondisi, stabilisasi harga yang ada di Sulsel cukup baik," kata Bambang Kusmiarso.

Dia juga menyebutkan penyebab inflasi disebabkan karena faktor ketersediaan dan harga pangan, serta kelancaran distribusi. Penting bagaimana mencapai suplai yang cukup, kemudian ketersediaan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi serta ekspektasi masyarakat.

Tahun ini, BI Sulsel targetkan inflasi mencapai 3,5+-1 persen. Komoditas pangan yang menjadi perhatian BI Sulsel menjelang Ramadan, diantaranya cabe merah, bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, daging, dan beras. Komoditas pangan itulah, yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi perhatian BI Sulsel karena selalu memberikan tekanan inflasi.

Sementara itu, Pj Gubernur Sulsel Soni Sumarsono menyebut stok pangan di Sulsel tergolong aman. Begitupun harga yang fluktuatif, namun tetap pada batas wajar.

"Sulsel itu surplus. Mulai dari beras, ikan bandeng, hingga cabe. Beda posisinya waktu saya di Jakarta, butuh suplai dari daerah. Sekarang, kita menyuplai daerah," kata Soni Sumarsono dalam acara High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah Sulsel, di ruang Rapat Pimpinan (Rapim) Kantor Gubernur, (7/5).

Mengefektikan tim untuk mengawasi ketersediaan, maupun harga pangan penting. Namun yang perlu diingat, walaupun Sulsel surplus tetapi ketersediaan harus tetap diatur dan dijaga.

"Tetapi jangan lupa gerakan ingat Sulawesi Selatan, ingat, jangan karena terlalu (suplay tersedia), ada daerah lain membutuhkan dan kita suplai habis-habisan, bandeng misalnya," sebut Sumarsono.

Faktor kelancaran distribusi, lanjut dia, dilihat juga berpengaruh, terutama dengan memperhatikan titik infrastruktur yang rusak.

Misalnya, walaupun pekerjaan umum (PU) tidak masuk dalam TPID, tapi dinas tersebut punya fungsi penting memperlancar arus distribusi pangan menjelang Ramadan dan idul fitri.