Gubernur Sulsel Minta Penanganan Inflasi Dimulai dari Hulu


28 November 2018 | Bagikan

videomax package

MAKASSAR, Pedomansulsel.com – Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA) meminta unsur terkait menangani inflasi dimulai dari hulu.

Menurut NA, kenaikan harga bahan pokok karena ada distorsi antara persediaan bahan pokok dengan kebutuhan masyarakat. Belum lagi harga di petani dan pedagang yang jauh berbeda.

Karena itu, data yang valid sangat dibutuhkan oleh pemerintah untuk membuat kebijakan yang tepat.

“Jujur saja kita belum punya data base tentang pangan, tentang komoditas kita,” sebutnya disela-sela High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan dan Kabupaten/Kota Se Sulawesi Selatan, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (27/11/2018).

NA juga meminta, tim TPID harus terlibat dalam semua proses, TPID harus kerja dari hulu ke hilir. Sehingga persoalan dapat diketahui lebih komprehensif dan solusi dapat diambil.

“Dari dahulu kita selalu rapat TPID hanya bahas harga, tapi tidak menyentuh penyebab kanaikan harga,” jelas Nurdin Abdullah.

NA berharap agar inflasi tidak hanya melihat di pasar tetapi dimulai di sektor produksi.

Sementara itu, berdasarkan data BPS, Inflasi Sulawesi Selatan 2018 ini sebesar 3,69 persen (yoy). Inflasi tersebut, lebih tinggi dari Inflasi Nasional sebesar 3,16 persen (yoy) dari target capaian 3,5 + 1% (yoy) pada 2018.

“Dengan pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang mampu meningkatkan lagi kualitas pengendalian inflasi di Sulawesi Selatan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas lagi,” katanya.

Pertemuan tingkat tinggi ini juga dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, Forkopimda Sulsel, bupati dan Wali Kota se Sulsel, serta unsur pihak yang tergabung di TPID.

Marwiah Syam